HIJRAH ANTARA PEMBEDA DAN PEMBELA,.................

Sabtu, 12 Desember 2009

HIJRAH ANTARA PEMBEDA DAN PEMBELA

Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi dalam kitabnya “Mukhtasor Siirah ar Rosul Salallahu Alaihi Wasalam “ (Hal : 198) membuat satu bab yang berkenaan dengan kisah hijrah berjudul “Titik Tolak Hijrah”; Waktu disaat Alloh membedakan antara kekasih-kekasih-Nya dan musuh-musuh-Nya serta saat dijadikannya momentum kekukuhan agama-Nya dan pertolongan-Nya untuk para hamba dan Rosul-Nya”.

Dalam kaitan ini setidaknya beliau ingin menggambarkan kepada para pembaca tentang dua buah hikmah yang dapat dpetik dari peristiwa hijrah tersebut, yaitu :

1.Hijrah merupakan saat ditampakkannya perbedaan antara kekasih-kekasih Alloh dan para musuh-Nya.

2.Hijrah merupakan saat dikukuhkannya Agama dan adanya pertolongan Alloh kepada para hamba dan Rosul-Nya.

Hikmah tersebut sebenarnya merupakan satu ikatan yang tidak dapat dipisahkan. Satu hikmah pertama merupakan sebab utama dari adanya hikmah yang kedua. Pertolongan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan didapat dan diraih, jika hamba-hamba-Nya memiliki shibghoh yang berbeda sebagai Ibadurrohman.

Dua masa penting perpindahan nilai-nilai keimanan anatara Makkah dan Madinah merupakan fakta sejarah yang menampakkan dua sisi hikmah tersebut.

Makkah , massa dimana manusia menemukan jati dirinya sebagai hamba-hamba Alloh yang memiliki kepribadian khusus yang berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya yang tidak memiliki arah hidup, walaupun konsekuensi yang harus mereka terima adalah didzalimi dan disakiti.

Serta Madinah saat di mana rahmat Alloh diberikan kepda mereka yang telah membuktikan perbedaannya sebagai Ibadurrohman dengan memperlihatkan bumi-Nya yang amat luas serta para pendukung dan simpatisannya yang saling kokoh bersaudara.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjelaskan Al-Furqon (perbedaan) melalui Kitab-Nya dan Nabi-Nya Barangsiapa yang paling kuat mengikuti Kitab dan Nabi-Nya, maka semakin besar dan nyatalah perbedaannya dengan orang-orang yang tidak mengikuti Kitab dan Nabi-Nya. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala befirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqon...” (QS. 8 : 29).

Muhammad Mahmuud Hijaazi dalam tafsirnya “At Tafsiir Al Waadhih”(1:84) menerangkan : “Jika ketaqwaan ini diperoleh oleh seorang hamba, niscaya Alloh menjadikannya cahaya yang dengannya dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, memberikannya hikmah yang menjadikannya mampu membedakan antara yang haq dengan yang bathil, antara yang bermanfa’at dengan yang berbahaya, serta mengarahkannya kepada jalan yang lurus”.

Diapun telah mengutus Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam dengan membwa agama-Nya yang benar guna mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya keimanan serta guna mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya keimanan serta untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara yang baik dan yang buruk, antara yang jujur dan yang dusta, antara hidayah dan kesesatan, antara ilmu dan kebodohan serta antara yang makruf dan yang munkar.

Berapa banyak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjelaskan ayat-ayat-Nya tentang perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. Di antaranya ialah firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala :

1.Antara kehidupan dan kematian lambang dari perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. (QS. 45 : 21).

2.Antara orang yang beriman dan beramal sholeh berbeda dengan orang yang berbuat kerusakn. Atau antara orang yang bertaqwa denganorang yang berbuat buruk. (QS. 38 :28).

3. Orang yang diberikan cahaya berbeda dengan orang yang berada di dalam gelap gulita. (QS. 6 : 22)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya.

Sayyid Quthub ketika menguraikan kandungan ayat-ayat dalam surat Al-Kafiruun menjelaskan secara tegas : “Keterpisahan (perbedaan) ini adalah masalah emergency guna menegaskan tanda-tanda perbedaan infrastruktur total yang memustahilkan adanya perjumpaan di antara keduanya sedikitpun.

Suatu perbedaan dalam inti keyakinan, methodologi wawasan, hakekat sistem dan karakteristik jalan yang ditempuh. Sesungguhnya tauhid adalah satu sistem, sedangkan kesyirikan adalah sistem yang lain... keduanya tidak akan pernah berjumpa.

Tauhid adalah suatu sistem yang memberikan arahan kepada manusia –bersama seluruh eksistensinya- hanya kepada Alloh Maha Esa Yang tidak sekutu bagi-Nya serta membatasi arah yang mempretemukan manusia, aqidah dan syari’atnya, nilai-nilai dan tolak ukurnya, moral dan akhaknya serta seluruh wawasannya tentang kehidupan dan eksistensinya.

Arah yang memertemukan seorang yang beriman adalah Alloh. Alloh Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dari sinilah, kehidupan dibangun atas infrastruktur tersebut. Bukan yang dicampur dengan kesyirikan dalam bentuk apapun, baik nyata maupun tersembunyi.

Sesungguhnya jahiliyyah adalah jahiliyyah, sedangkan Islam adalah Islam. Perbedaan di antara keduanya amat jauh. Jalan satu-satunya hanyalah keluar dari jahiliyyah secara total. Yaitu melepaskan semua jahiliyyah dengan berbagai atributnya dan berhijrah kepada Islam dengan seluruh atributnya”. (Fii Dzilaal Al-Qur’an : 6 :3992).

Perbedaan kita dengan mereka memang bukan sebuah trendi dari budaya yang tercipta, akan tetapi perbedaan itu lahir dari keimanan dan keyakinan akan sebuah kebenaran, kebenaran ilahiyah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Perbedaan inilah yang menyebabkan kaum muslimin generasi pertama mengalami kemenangan dan kesuksesan yang tiada bandingannya baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk itulah, Syeikhul Islm Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata : “Berbeda dengan mereka dalam aspek kehidupan merupakan nilai kebaikan bagi kita. Sampai-sampai dalam masalah kecanggihan dunia mereka sekalipun. Karena, terkadang hal tersebut membawa akibat buruk bagi kehidupan akhirat kita atau paling tidak dapat menghilangkan sesuatu yang lebih utama dari urusan dunia kita”.

Kaum mukminin memang berbeda dengan kaum manapun dalam konsep hidupnya, yaitu mengabdi kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap nafas yang dijembuskannya. Hingga tidak ada nafaspun yang keluar sia-sia hanya untuk memenuhi kehendak ilah-ilah lain, para thoghut sang pemangsa, kaum arbab penipu dan para andad si budak nafsu. Kemurnian pengabdian mereka menurut Muhammad Quthub mencakup tiga perkara :

1.Keyakinan yangkokoh bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha Esa pada dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

2.Menunjukan pengabdian hanya kepada Yang Esa, tanpa persekutuan, dan

3.Berhukum kepada syari’at-Nya semata, bukan kepada undang-undang dan hukum-hukum yang lainnya. (Ru’yah Islamiyyah : Lii Ahwaal Al Aalam Al Mu’aashir : 123).

Inilah sunnatulloh dari sebuah janji Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menolong para Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman (yang telah menunjukakan perbedaannya itu), baik di dunia dan di akhirat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menolong Rosul-Rosul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. (QS. 40 : 51).

Pertolongan yang akan diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sesuai sunnah-sunnah-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Usamah Ali Sulaiman meliputi :

1.Mengalami kemenangan dan mengalahkan musuh-musuh Islam (QS. 61 : 13).

2.Membinasakan orang-orang yang mendustakan (agama-Nya) dan menyelematkan para Nabi, para Rosul dan para pengikut mereka. (QS. 54 : 11-13).

3.Bencana yang diturunkan kepada musuh-musuh Islam (QS 17 : 5).

4.Terkadang sesuatu yang dianggap bencana oleh sebagian orang, justeru adalah pertolongan (QS. 9 : 40).

5.Dikokohkan dalam aqidah dan manhaj yang benar hingga kematian menjemput (QS. 37 : 98).

6.Kejelasan bukuti dan kekuatan dalil (QS. 2 : 258)

7.Dicegahnya para musuh Alloh dalam menguasai para Nabi atau orang-orang yang beriman (QS. 37 : 171 –173).

0 komentar:

Posting Komentar

Teman dari Facebook

Followers

MARKET

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes