LELAHNYA PARA SYUHADA

Sabtu, 07 November 2009

Di dalam kisah turunnya wahyu kepada Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, Imam Bukhori meriwayatkan bahwa saat Waroqoh bin Naufal diberi tahu tentang apa yang dilihat oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, beliau berkata: "Seandainya aku masih hidup saat kaummu mengusirmu" Rasululllah Salallahu Alaihi Wasalam.

Bertanya "Apakah mereka akan mengusirku?" Beliau menjawab: "ya, tidak ada seorang laki-lakipun yang mengemban amanah sepertimu kecuali pasti dia akan dimusuhi".

Sungguh mengagumkan kaum reformis…menghadapi berbagai bentuk kezaliman, penyerangan dan pengejekan, akan tetapi mereka tetap sabar dan mengharap keridhoan.

Sungguh mengagumkan kaum reformis…. Saat sendiri berhadapan dengan umat. Siapapun yang menghina dan menentangnya tak mampu mencelakakan. Kelompok tertentu menyerangnya, orang awam menghinanya. Mereka memberinya gelar yang paling hina dan menuduhnya dengan akhlak yang paling dina. Walaupun demikian, sang reformis tetap menegakkan wajahnya, tetap tinggi tekadnya dan jujur cita-citanya.

Sang reformis melihat insan di sekelilingnya penuh penyelewengan, kesesatan dan kejumudan dari syari'at Allah. Saat itu qolbunya bergerak, jiwanya bergetar, pagi dan petang tak henti berfikir tentang duka dan kondisi umat, jiwanya terus berharap, pikirannya beretar, akalnya tak mampu tenang dengan tidur atau istirahat, jiwanya tak tentram dengan makan dan minum.

Bagaimana mungkin dia kuat melakukannya atau senang memperbuatnya, padahal dia lihat umatnya berjalan menuju lubang kehinaan sedangkan di sisi lain pasal-pasal kedukaan dan kehancuranpun akan silih berganti datang.

Seorang reformis jujur pada dirinya, jujur pada selainnya, menegaskan kebenaran, menyebut sesuatu dengan namanya, membenci tipu daya dan pemalsuan hakikat serta tidak senang dengan kepura-puraan. Sesuatu yang amat dibenci oleh kebanyakan orang yang dipertuhankan hawa nafsu serta oleh mereka yang eksistensi dan kedudukannya bersumber dari kelalaian dan mabuknya kebanyakan orang.

Sang reformis bergerak - dengan isti'anah kepada Allah - memenuhi ufuk, mengangkat suara kemurnian kalimat tauhid, tidak diterpa futur atau mundur. Amanat balagh yang diembannya tidak dapat dipatahkan hanya dengan kebencian, ancaman atau rasa takut, karena jiwa pembangun dengan cahaya iman mampu memberikan kekuatan dan keteguhan untuk menjadikannya lebih mulia dari sekedar perhiasaan dunia atau ancaman para diktator.

Keagungan sang reformis tampak dalam keteguhannya, tanpa lelah dan payah. Kebenaran mungkin akan dicapai banyak orang, akan tetapi membelanya dan sabar menghadapi tantangannya merupakan kedudukan tersendiri yang tidak dapat digapai kecuali oleh jiwa-jiwa reformis. Keagungan reformis tampak dalam upayanya menjaga duka umat, kecil ataupun besar, rendah ataupun tinggi. Dia hidup bersama umat mempertahankan kehormatannya dan memlihara kemuliaannya. Qolbunya tak bergantung dengan puji dan syukur insan, atau takut dengan murka dan kezaliman mereka. Secara jujur dia katakan
يَاقَوْمِ لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

"Hai kaumku, ِaku tak meminta upah dari kalian, tidak ada upah untukku kecuali dari Rabb yang menciptakanku, Apakah kalian tidak berakal" (Qs. Hud/11 : 51).

Para remormis adalah pendorong kehidupan, pembangkit cita-cita umat. Merekalah penjaga, komandan dan pencetus kebaikan di saat kehidupan begitu mahal dan orang-orang yang jujur begitu jarang. (Renungan Tarbiyyah/Du'at at-tauhid prees/Ahmad bin Abdurrahman Ash Shuya)
IZZYY AZZIZAN AW MUT SYAHIDAN,.....

0 komentar:

Posting Komentar

Teman dari Facebook

Followers

MARKET

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes