Inilah Pengalamanku,......ketika pulang dari Sumatera,...
Sabtu, 07 November 2009
Secercah Cahaya Hidayah
Ketika pada suatu waktu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan kepadaku untuk pulang kembali dari perjalanan yang panjang, saat berada dalam kapal laut ternyata saya duduk bersebelahan dengan sekelompok anak muda yang senantiasa bergelimang dalam perbuatan sia-sia dan tiada manfaat, sampai-sampai suara tertawanya sangat keras terdengar.
Mereka banyak membuat kegaduhan dan tempat duduk merekapun dipenuhi oleh kepulan rokok cigarette. Dan sudah menjadi hikmah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada saat itu adalah bahwa diriku tidak dapat berpindah duduk ke tempat yang lain dikarenakan penumpangnya sangat penuh sekali.
Saya mencoba untuk menghindari kegaduhan dan suasana tidak nyaman ini dengan berusaha tidur, namun mataku tidak dapat terpejam juga. Dan tatkala hatiku mulai dihinggapi perasaan bosan bercampur kesal, maka saya membuka mushhaf al-Qur'an al-Karim dan mulai membaca sebagian ayat-ayatnya dengan suara yang sayup-sayup terdengar.
Ternyata hal itu justru menimbulkan efek lain, yaitu membuat sebagian para pemuda berandalan (kalau boleh dikatakan demikian) tersebuat diam, bahkan mengganti kegaduhannya dengan membaca majalah, dan sebagian yang lainnya mulai tertidur pulas.
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka –tempat duduknya persis di sebelahku- berteriak nyaring: "Cukup, cukup".
Saya mengira bahwa saya telah sedikit menyusahkannya karena membaca dengan agak keras, maka sayapun memohon maaf kepadanya. Kemudian sayapun mulai membacanya dengan suara lirih yang hanya didengar olehku. Namun saya melihat dia menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta tidak dapat duduk dengan tenang dan mulai banyak bergerak. Kemudian dengan wajah memelas dia berkata kepadaku: "Saya memohon kepadamu untuk tidak membacanya lagi...Cukup...Saya tidak sanggup untuk bersabar lagi".
Akhirnya dia meninggalkan tempat duduknya hingga dalam beberapa saat aku tidak melihatnya. Kemudian diapun kembali seraya mengucapkan salam kepadaku dan memohon maaf yang teramat sangat. Setelah itu dia terdiam, dan sayapun tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Setelah beberapa saat dari kebisuannya, dia menoleh kepadaku dengan kedua mata yang basah oleh linangan air mata, seraya berkata lirih kepadaku: "Sudah tiga tahun atau lebih saya tidak pernah lagi bersujud dalam shalat, dan bahkan tidak pernah membaca al-Qur'an walaupun hanya satu ayat saja...! Dan sudah sebulan ini saya bepergian dengan banyak melakukan berbagai perbuatan munkar.
Maka ketika tiba-tiba saya melihatmu membaca al-Qur'an, saat itu saya mulai merasakan bahwa hidupku sangat kelam, hatiku terasa sesak dan leherku terasa tercekik. Dalam setiap ayat yang engkau baca, saya merasakan lecutan cambuk yang menderaku...!"
Dalam diriku sayapun bergumam: "Sampai kapan kelalaian ini akan terus berlanjut? Dan sampai kapankah saya harus menjalani hidup seperti ini?"
"Apa yang akan terjadi setelah kesia-siaan ini?"
"Maka sayapun beranjak ke kamar kecil, dan saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi?"
"Sayapun ingin menangis dengan sekeras-kerasnya, dan tidak kudapati tempat yang dapat menyembunyikan hal tersebut dari pandangan orang lain kecuali hanya di kamar kecil!"
Dari ucapannya, maka hal itu tiada lain adalah ungkapan taubat dan keinginan untuk kembali menggapai jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala... kemudian diapun terdiam.
Dan ketika kaki pesawat menyentuh landasan, dia menghadangnya agar bisa berbicara hanya berdua saja, jauh dari pandangan teman-temannya. Dengan antusias dia bertanya kepadaku: "Apa engkau mempunyai keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?"
Saya berkata kepadanya: "Apabila taubatmu benar dan engkaupun bertekad untuk kembali kepangkuan-Nya, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memgampuni dosa apa saja!"
Dia berkata: "Tetapi dosa yang telah kukerjakan sangat besar sekali...besar sekali...!"
Saya berkata kepadanya: "Belum pernahkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"{QS. al-Zumar (39): 53}"
Saat itulah kulihat senyum bahagia dari pancaran wajahnya dan linangan air mata taubat dari kedua mata mungilnya, kemudian dia melepas kepergianku dan berlalu meninggalkanku...!
Subhanallah al-'Azhīm...!
Sesungguhnya perbuatan maksiat dan tindakan melampaui batas yang dikerjakan oleh seorang insan, maka di dalamnya hatinya masih senantiasa tersimpan setitik kebaikan. Apabila kita sanggup menarik simpatinya dan mengayominya, maka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita akan dapat memanen benih kebaikan yang mulai tumbuh.
Benih kebaikan akan senantiasa ada dalam hati seseorang meskipun kehidupannya bergelimang dengan hawa nafsu. Dan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyinari hatinya dengan secercah cahaya hidayah hingga dapat menggapai jalan hidayah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit…"{QS. al-An'am (6): 125}
Ketika pada suatu waktu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan kepadaku untuk pulang kembali dari perjalanan yang panjang, saat berada dalam kapal laut ternyata saya duduk bersebelahan dengan sekelompok anak muda yang senantiasa bergelimang dalam perbuatan sia-sia dan tiada manfaat, sampai-sampai suara tertawanya sangat keras terdengar.
Mereka banyak membuat kegaduhan dan tempat duduk merekapun dipenuhi oleh kepulan rokok cigarette. Dan sudah menjadi hikmah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada saat itu adalah bahwa diriku tidak dapat berpindah duduk ke tempat yang lain dikarenakan penumpangnya sangat penuh sekali.
Saya mencoba untuk menghindari kegaduhan dan suasana tidak nyaman ini dengan berusaha tidur, namun mataku tidak dapat terpejam juga. Dan tatkala hatiku mulai dihinggapi perasaan bosan bercampur kesal, maka saya membuka mushhaf al-Qur'an al-Karim dan mulai membaca sebagian ayat-ayatnya dengan suara yang sayup-sayup terdengar.
Ternyata hal itu justru menimbulkan efek lain, yaitu membuat sebagian para pemuda berandalan (kalau boleh dikatakan demikian) tersebuat diam, bahkan mengganti kegaduhannya dengan membaca majalah, dan sebagian yang lainnya mulai tertidur pulas.
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka –tempat duduknya persis di sebelahku- berteriak nyaring: "Cukup, cukup".
Saya mengira bahwa saya telah sedikit menyusahkannya karena membaca dengan agak keras, maka sayapun memohon maaf kepadanya. Kemudian sayapun mulai membacanya dengan suara lirih yang hanya didengar olehku. Namun saya melihat dia menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta tidak dapat duduk dengan tenang dan mulai banyak bergerak. Kemudian dengan wajah memelas dia berkata kepadaku: "Saya memohon kepadamu untuk tidak membacanya lagi...Cukup...Saya tidak sanggup untuk bersabar lagi".
Akhirnya dia meninggalkan tempat duduknya hingga dalam beberapa saat aku tidak melihatnya. Kemudian diapun kembali seraya mengucapkan salam kepadaku dan memohon maaf yang teramat sangat. Setelah itu dia terdiam, dan sayapun tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Setelah beberapa saat dari kebisuannya, dia menoleh kepadaku dengan kedua mata yang basah oleh linangan air mata, seraya berkata lirih kepadaku: "Sudah tiga tahun atau lebih saya tidak pernah lagi bersujud dalam shalat, dan bahkan tidak pernah membaca al-Qur'an walaupun hanya satu ayat saja...! Dan sudah sebulan ini saya bepergian dengan banyak melakukan berbagai perbuatan munkar.
Maka ketika tiba-tiba saya melihatmu membaca al-Qur'an, saat itu saya mulai merasakan bahwa hidupku sangat kelam, hatiku terasa sesak dan leherku terasa tercekik. Dalam setiap ayat yang engkau baca, saya merasakan lecutan cambuk yang menderaku...!"
Dalam diriku sayapun bergumam: "Sampai kapan kelalaian ini akan terus berlanjut? Dan sampai kapankah saya harus menjalani hidup seperti ini?"
"Apa yang akan terjadi setelah kesia-siaan ini?"
"Maka sayapun beranjak ke kamar kecil, dan saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi?"
"Sayapun ingin menangis dengan sekeras-kerasnya, dan tidak kudapati tempat yang dapat menyembunyikan hal tersebut dari pandangan orang lain kecuali hanya di kamar kecil!"
Dari ucapannya, maka hal itu tiada lain adalah ungkapan taubat dan keinginan untuk kembali menggapai jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala... kemudian diapun terdiam.
Dan ketika kaki pesawat menyentuh landasan, dia menghadangnya agar bisa berbicara hanya berdua saja, jauh dari pandangan teman-temannya. Dengan antusias dia bertanya kepadaku: "Apa engkau mempunyai keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?"
Saya berkata kepadanya: "Apabila taubatmu benar dan engkaupun bertekad untuk kembali kepangkuan-Nya, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memgampuni dosa apa saja!"
Dia berkata: "Tetapi dosa yang telah kukerjakan sangat besar sekali...besar sekali...!"
Saya berkata kepadanya: "Belum pernahkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"{QS. al-Zumar (39): 53}"
Saat itulah kulihat senyum bahagia dari pancaran wajahnya dan linangan air mata taubat dari kedua mata mungilnya, kemudian dia melepas kepergianku dan berlalu meninggalkanku...!
Subhanallah al-'Azhīm...!
Sesungguhnya perbuatan maksiat dan tindakan melampaui batas yang dikerjakan oleh seorang insan, maka di dalamnya hatinya masih senantiasa tersimpan setitik kebaikan. Apabila kita sanggup menarik simpatinya dan mengayominya, maka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita akan dapat memanen benih kebaikan yang mulai tumbuh.
Benih kebaikan akan senantiasa ada dalam hati seseorang meskipun kehidupannya bergelimang dengan hawa nafsu. Dan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyinari hatinya dengan secercah cahaya hidayah hingga dapat menggapai jalan hidayah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit…"{QS. al-An'am (6): 125}
RSS Feed
Twitter
0 komentar:
Posting Komentar