BEGINILAH SHUFISME,..................

Kamis, 12 November 2009

Kata tashawwuf dan shufy tidak dikenal pada masa awal-awal masa islam, karena merupakan ungkapan baru yang diadopsi dari umat-umat lain.

Ibnu Taimiah Rahimahullah berkata:

"Adapun kata shufiy, maka belum dikenal pada abad-abad ketiga Hijriah dan baru dikenal setelahnya. Pendapat ini diungkapkan oleh lebih dari seorang imam, seperti imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman ad-Daraniy dan lainnya.

Terdapat pula riwayat bahwa Abu Sufyan ast-Tsauriy pernah menyebut-nyebut tentang shufiy, sebagian lagi mengungkapkannya dari al-Hasan al-Bashriy. Ada perbedaan pendapat tentang kata shufiy yang disandingkan dibelakang namanya, karena sebenarnya itu adalah nama nasab seperti Quraisiyiy, Madaniy dan semacamnya.

Ada yang mengatakan bahwa kalimat shufiy berasal dari kata ash-shuffah, maka hal itu keliru. Kerena jika itu yang dimaksud, maka kalimatnya berbunyi shuffiy.

Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shaff (barisan) tedepan dihadapan Alloh, maka hal itu juga keliru, karena jika yang dimaksud demikian, maka yang benar adalah shaffiy.

Ada juga yang mengatakan bahwa unggkapan tersebut bermakna shafwah (mahluk pilihan Alloh), maka ini juga keliru, karena jika itu yang dimaksud, maka ungkapan yang dimaksud adalah shafawiy.

Adapun pula yang mengatakan kalimat shufiy berasal dari seorang yaitu shufah bin bisyr bin 'Ad bin Bisyr bin Thabikhah, sebuah kabilah arab yang bertetangga dengan Mekkah pada zaman dahulu yang terkenal suka beribadah.

Hal inipun juga diangap lemah, kerena mereka tidak terkenal suka beribadah, seandainya mereka pun suka beribadah, maka niscaya julukan itu lebih utama jika ditujukan kepada para shahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in. Di sisi lain orang-orang yang sering berbicara tentang shufiy tidaklah mengenal suku ini dan mereka tentu tidak akan rela jika istilah tesebut dikatakan dari sebuah suku pada masa jahiliyah yang sedikitpun tidak ada unsur Islamnya.

Ada juga yang mengatakan dan ini terkenal bahwa kata tersebut berasal dari shuf (bulu wol), karena ciri kali pertama tashawwuf muncul di bashrah.

Yang pertama kali memperkenalkan Tashawwuf adalah sebagian sahabat 'Abdul Wahid bin Zaid, sahabat hasan al-Bashriy, yang terkenal dengan sifatnya yang berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah dan rasa takut, satu hal yang tidak didapati pada penduduk kota saat itu.

Abu syaikh al-Ashbahaniy meriwayatkan dalam sanadnya dari Muhammad bin Sirrin yang mendapat berita bahwa satu kaum gemar memakai pakaian dari wol (shuf), maka dia berkata: "Sesungguhnya ada suatu kaum yang memakai pakaian wol dengan mengatkan bahwa mereka ingin menyamai al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau dahulu memakai pakaian dari katun atau lainnya, atau ucapan semacam itu."

Lalu Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

"Meraka mengaitkan masalah ini dengan pakaian zhahir yang terbuat dari wol, meka mereka mengatakannya sebagai shufiy, akan tetapi mereka tidak terikat dengan mengenakan dengan pakaian wol tersebut, tidak juga mereka mewajibkannya dan menggantungkan permasalahannya dengan hal tersebut, akan tetapi dikaitkannya berdasarkan penampilan luarnya saja. Itulah asal kata tashawwuf, kemudian setelah itu banyak bercabang-cabang."

Aqidah dan Pemikiran Shufi

Diantara pokok-pokok aqidah dan pemikiran shufiy, sufisme atau tashawuf adalah:

a) Menjadikan al-kasyaf (telepati karena tersinggkapnya alam ghaib) sebagai sumber atau rujukan utama dalam beragama.

Sehingga mereka sering mengaku bertemu dengan Rasulullah Salallahu Alaihi Waslam dalam keadaan sadar, menimba ilmu laduni dari Nabi Khidir Alaihi Salam, gemar bermain-main dengan ilham, mimpi, bisikan ghaib dan klaim-klim lainny

b) Meyakini bahwa agama memiliki dua sisi, syari'at dan hakikat, yang keduanya hanya ada dalam shufi.

Syari'at adalah sesuatu yang nampak dari agama dan pintu masuknya semua orang. Sedangkan hakikat dalah sesuatu yang batin. Tak ada yang sampai derajat ini kecuali orang yang baik dan pilihan (wali).

c) Dalam tasawwuf harus ada pengawasan dari Syaikh atau musyrid untuk "mengambil" thareqatnya.

d) Harus melakukan dzikir, renungan rohani dan pemusatan pikiran tentang Alloh Subhabahu Wa Ta'ala, hingga mencapai derajat paling tinggi, derajat wali.

e) Konsep al-fana', yaitu bila seorang hamba telah tinggi mahabbah (cinta)nya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka akan melupakan perkara lainnya.

f) Seakan-akan yang ada hanyalah ia dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala saja.

g) Al-Ghazali Rahimahullah berpendapat bahwa akal saja tidak cukup dijadikan sarana manuju ma'rifat.

Tetapi harus ada "kekuatan lain" dibalik kekuatan akal yang bisa membuka mata hati, dimana manusia bisa mengatahui hal yang ghaib dan yang akan terjadi dimasa mendatang. Itu tidak dapat dicapai kecuali oleh orang yang memiliki iman seperti imannya orang arif yang bisa menyaksikan cahaya keyakinan. Hal ini didasarkan pada keajaiban mimpi yang sejati dan berita-berita dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam tentang hal-hal yang ghaib dimasalah-masalah yang akan datang.

h) Mereka Meyakini adanya "ilmu laduni" yang dikaitkan dengan firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala

…..وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

…Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (al-Kahfi-65)

Menurut mereka, ilmu ladunni adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka yaitu dengan jalan Khasyaf, tajliyah, (penampakan) serta kontak langsung dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya Salallah Alaihi Wasalam.

i) Sebagian Kelompok Shufi berkhayal, bahwa siapa saja yang menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan akan mencapai tingkat melebur dengan dzat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga sifat ketuhanan menyatu dengan tabi'at kemanusiaan.

Bentuk lahirnya manusia, akan tetapi hakikat batinnya adalah sifat ketuhanan, demikian klaim sesat mereka! Ajaran ini dikenal dengan istilah al-hukul wa al-ittihad.

j) Kemudian, kelanjutan dari aqidah al-hulul wal al-ittihad tersebut adalah wihdah al wujud (manunggaling kawula gusti).

Istilah ini berdasarkan pola pikir shufiy, bahwa tidak ada wujud didunia kecuali Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan tidaklah yang nampak didunia ini kecuali penjelmaan dari Dzat-Nya

Tokoh sesat mereka, Ibnu 'Arabiy berkata:

"Tidaklah ada yang tampak ini kecuali Alloh, dan tidak mengetahui kecuali Alloh itu sendiri!"

Suatu kali Abu Yazid al Busthamiy masuk ke Madinah dan dibelakangnya diikuti oleh banyak orang. Lalu ia menghadap meraka seraya berkata:

"Sesungguhnya aku adalah Alloh yang tiada illah kecualiku, maka sembahlah aku!"

k) Al-Kasyaf, mereka berkeyakinan bahwa al-kasyaf adalah sunber dari ilmu dan ma'rifah, bahkan mereka menjadikan al-kasyaf sebagai puncak ibadah.

l) Keyakinan mereka terhadap Alloh Subhanah Wa Ta'ala.

Mereka memiliki keyakinan yang bermacam-macam, seperti al-hulul wa al-ittihad, wihdah al-wujud. Hingga kini, aqidah terakhir yang saat ini menjadi anutan para pemuka shufi, seperti Ibnu 'Arabiy, Ibnu Sabi'in, at-Tilmisani, "Abdul Karim al-Jaily, 'Abdul Ghani an-Nablusiy dan pemuka thareqat masa kini.

m) Keyakinan merema terhadap Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Keyakinan mereka terhadap rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam pun bermacam-macam, diantaranya ada yang berkeyakinan bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Waslam tidak sampai pada martabat atau tinggkatan mereka, mereka mengatakan bahwa ilmu Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam lebih rendah dibandingkan dengan ilmu orang-orang shufi sebagaimana al-Busthamiy berkata:
"Kami telah menyelami lautan, sedangkan para nabi hanya tinggal diam dipesisir pantai saja!"

Selain itu, ada juga orang yang berkeyakinan bawa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam adalah pangkalnya alam semesta dan beliau adalah Alloh Subhanhu Wa Ta'ala yang bersemayam di atas 'Arsy dan bahwasannya, langit bumi, 'Arsy dan seluruh mahluk yang lain diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad. Dialah yang pertama kali ada dan bersemayam diatas 'Arsy, dan ini adalah keyakinan Ibnu 'Arabiy.

n) Keyakinan meraka terhadap Awliya' (para wali).

Dalam hal ini, keyakinan merekapun bervariasi, ada yang lebih mengutamakan wali dari pada Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, mayoritas mereka meyakini dan menjadikan wali setara dengan kedudukan Alloh Subhabahu Wa Ta'ala dalam seluruh sifatnya, maka wali itulah yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dan melebur (bersatu) dengan alam semsta.

Sebagaimana orang-orang menjadikan al-masih 'Isa, 'Uzair dan para malaikat sebagai rabb-rabb yang menjadi tandingan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan perantara yang mereka namakan wali aqthab, aghwats dan wali abdhal. Meraka menggantungkan segala sesuatu yang memberi manfaat dan mudharat kepada hal-hal tersebut diatas.

o) Keyakinan mereka tentang surga dan neraka.

Orang Shufi berkeyakinan bahwa permohonan seseorang akan surga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah sebuah "aib" dan "kekurangan" yang sangat besar, maka seorang wali tidak boleh untuk berusaha mendapatkannya atau meminta surga, karena akan mengurangi keberadaan dia sebagai wali, akan pemohonan mereka dan kecintaan mereka dalam fana', menyingkap alam ghaib dan menyatu dengan alam, inilah yang dimaksud dengan surga shufi.

Adapun keyakinan mereka tentang neraka, bahwasannya menjauhi dan lari dari neraka adalah hal yang tidak layak dilakukan oleh seorang shufi yang sempurna, karena takut neraka adalah gambaran seorang budak, bukan orang yang bebas lagi merdeka.

Diantara mereka ada yang membanggakan dirinya dengan berkata:

"Seandainya saya meludahi api neraka, maka api neraka itu pasti akan padam!",

Sebagaimana perkataan al-Busthamiy.

p) Keyakinan mereka tentang iblis dan Fir'aun.

Mereka berkeyakinan bahwa sempurna hamba dengan seutama-utamanya mahluk yang menampakkan tauhid adalah iblis –la'natullah-, karena ia tidak sujud kecuali kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Saja, disertai keyakinan mereka bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah mengampuni Iblis dari dosa-sodanya dan memasukkanya ke dalam surga. Begitu pula dengan Fir'aun, mereka katakan bahwa Fir'aun adalah seutama-utamanya mahluk dalam mengesakan Alloh Subhanahu Wata'ala karena telah berkata:

"Akulah Rabb Kaliab Yang Paling Tinggi!" (Q.S an-Nazi'at : 24)

Menurut shufi, Fir'aun telah mengetahui hakikat, kerena setiap yang ada di alam wujud adalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan mereka yakin bahwa Fir'aun adalah orang yang beriman dan akan masuk surga!

Wa al-'iyadhu billah!


Made In : Cutte Mumett

0 komentar:

Posting Komentar

Teman dari Facebook

Followers

MARKET

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes